Rabu, 08 Mei 2013

Manajemen Kota


Assalamualaikum Wr.Wb


Sebelum membahas Manajemen Kota lebih lanjut saya akan memaparkan sedikit tentang definisi Manajemen Perkotaan .

Manajemen Perkotaan atau yang biasa disebut Urban Management  Secara Umum dapat dapat diartikan sebagai suatu upaya atau  proses pelaksanaan perencanaan kota untuk mencapai sasaran pembangunan kota  yang lebih efektif dan efisien, atau upaya pengelolaan pembangunan kota yang berkelanjutan yang dilakukan menggunakan  sistem dan strategi yang terintegrasi, holistik dan komprehensif sehingga dapat mencapai tujuan serta sasaran sesuai dengan rencana dan tahapan yang ditetapkan yang pada akhirnya akan mensejahterakan penduduk kota tersebut.

Menurut UNDP, manajemen perkotaan meliputi pola kesejahteraan warga kota dalam arti yang luas.
·         Tugas-tugas manajemen perkotaan berhubungan dengan :
a.    Penyediaan infrastruktur, fasilitas, dan pelayanan perkotaan
b.     Perencanaan dan koordinasi perkembangan kota
c.    Regulasi aktifitas

Adapun Kriteria Untuk Mengevaluasi Kinerja Manajemen  Suatu Kota yaitu :
1. Perbaikan standar hidup
·         Pertama yang dimaksud disini adalah sumber daya yang semula hanya digunakan untuk memenuhi  kebutuhan konsumsi, kemudian juga diharapkan bisa digunakan untuk menunjang investasi dalam rangka memperbaiki produksi
·         Kedua yaitu Produsen berkompetisi secara efektif guna dalam rangka menyediakan kebutuha barang dan jasa bagi konsumen
·         Dan yang ketiga Sumber daya digunakan harus ditangani secara ekonomis; efisien dan efektif dan dimanfaatkan sebaik mungkin.

2. Pemerataan dan keadilan
Pemerataan berarti cost and benefit dapat didistribusikan secara merata ke seluruh masyarakat, namun dalam artian tetap secara khusus memperhatikan yang lemah dan tidak beruntung
Kemudian Keadilan pada prinsipnya tidak ada batasan dan diskriminasi. justru memberi kesempatan yang sama bagi semua kelompok masyarakat .Keadilan juga berarti bahwa ada kesamaan penanganan bagi semua masyarakat dalam memperoleh pelayanan umum (keadilan horisontal)
Namun demikian yang lebih “kaya” hendaknya dapay berkontribusi lebih pada biaya pelayanan umum (keadilan vertikal) agar Masyarakat “membayar” sesuai dengan apa yang digunakan

3. Sustainabilitas lingkungan
·         Konservasi sumber daya yang langka atau tidak dapat diperbaharu atau non-renewable serta  menggunakan sumber daya yang dapat diperbaharui dengan cara berkelanjutan
·         Dapat Meminimalkan dampak pembangunan dan kegiatan pada situasi tertentu  atau ekologi yang rawan
·         Meminimalkan resiko/dampak perubahan negatif yang tidak dapat diperbaiki, misalnya terjadinya bencana alam dan sosial, rusaknya lapisan ozon, global warming.serta Meminimalkan polusi udara, air, tanah

4. Pemenuhan hak asasi yang bertanggung jawab
Memberi Kebebasan untuk berkeyakinan, berpikir, berbicara, beribadah dan berserikat. Serta memberi Kebebasan pada setiap  individu untuk memilih dalam menggunakan waktu dan uang, dalam konsumsi, bekerja, tinggal, dsb
Selain itu, juga memberi Jaminan keamanan dan keselamatan, serta hak atas properti

5. Pengatasan konflik dan ketidakpastian
Yang di maksud disini adalah Pengatasan konflik antara keadilan sosial dengan mekanisme pasar, yaitu antara pertumbuhan dengan keberlanjutan suatu lingkungan, antara modernitas dengan tradisi yang sudah ada. 



^ Terima Kasih ^


 

Sumber: Nick Devas and Carole Rakodi (ed)., (1993: 55 – 61)

Rabu, 01 Mei 2013

Kota Curitiba


Curitiba adalah ibukota Provinsi Paraná, Brazil. Kota ini terletak di Brazil bagian tenggara, jaraknya sekitar 1.081 km dari ibu kota Brazil, Brasilia. Kota ini terletak di dataran tinggi sekitar 934,6 meter di atas permukaan laut dan terletak 65 mil dari pelabuhan laut Paranaguá. Luas Kota Curitiba ada 430 kilometer persegi. Sensus tahun 2010 menunjukkan penduduk Kota Curitiba berjumlah 2.469.489 jiwa

Kota Curitiba ini, menerapkan Model Ecological People Centered City merupakan satu terjemahan dari konsep pembangunan berkelanjutan di kawasan urban. Prinsip dasarnya yaitu mengintegrasikan perencanaan lingkungan dan perencanaan kota dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, dengan fokus utama keberlanjutan lingkungan dan pemeliharaan kualitas kehidupan warga kota.

Kota juga memiliki masalah sosial yang umumnya juga terjadi di banyak negara dunia, utamanya negara-negara berkembang. Curitiba, sebagaimana Brazil dalam skala nasional, harus tumbuh dalam kekuasaan diktator militer, krisis ekonomi, banyaknya kaum migran berpendidikan rendah. Curitiba merupakan kota dengan pertumbuhan penduduk yang tertinggi di Brazil, mencapai 5.7 % pertahun. Pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol kemudian membangkitkan kesadaran akan pentingnya suatu perencanaan kota yang efektif dan dapat menjangkau persoalan-persoalan seputar pelayanan publik, perumahan dan sanitasi, sampai kepada lingkungan dan transportasi. 

Curitiba merupakan satu contoh peren-canaan kota jangka panjang yang inovatif dalam menciptakan kota menjadi tempat tinggal yang baik dan menyenangkan. Berbagai aspek yang sangat beragam: fisik – lingkungan – sosial- ekonomi – budaya, dalam perencanaan kota dilaksanakan secara terintegrasi, berhasil menghidupkan dan memperlancar aktivitas ekonomi ke seluruh wilayah kota (dan dengan demikian meningkatkan pendapatan kota), mengendalikan pertumbuhan kota, mengurangipolusi dan meningkatkan kualitas kehidupan warga kota sekaligus. 

Di samping rencana kunci berupa integrasi transportasi  dan tata guna lahan, pembangunan kota Curitiba juga didukung oleh program-program peningkatan kesejahteraan sosial warga kota yang terintegrasi dengan program-program lingkungan, antara lain:   

·         Program  building capacity job line, pendidikan kewirausahaan dan inkubator bisnis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan perluasan kesempatan kerja.

·         Dalam program  green exchange dan garbage not garbage  pemerintah telah berhasil mengikutsertakan partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan. Warga kota di area slum yang tidak terjangkau kendaraan pengumpul sampah, dapat menukar sampahnya dengan tiket bus dan makanan di stasiun pengumpulan yang ditentukan. Anak-anak juga dapat menukar sampah-sampah recycleable dengan mainan, alat tulis, atau tiket pertunjukan. Hal ini juga merupakan cara efektif dalam edukasi publik untuk kesadaran lingkungan.   

·          Program  Garbage not garbage  telah mampu mendaur ulang 70 % sampah kota oleh warga sendiri. Seminggu sekali, sebuah truk mengumpulkan kertas, metal, plastik, dan kaca yang telah disortir di masing-masing rumah tangga. Daur ulang kertas saja sebanding dengan terselamatkannya 1200 pohon satu hari. Selain itu, sebagaimana benefit lingkungan, pendapatan hasil program lingkungan disalurkan pada program sosial, termasuk menggaji para tuna wisma dan alkoholik di tempat persortiran sampah (ICLEI  2005). 

Program pendukung yang tak kalah penting adalah upaya pemerintah dalam mewujudkan tata pemerintahan yang baik, transparansi dan partisipasi masyarakat. Sistem transportasi, misalnya, telah mengalami berkali-kali perbaikan sistem dengan adanya berbagai  complain, masukan, dan partisipasi dari warga sampai penerapan busway sekarang yang sudah mapan.  

Tampungan air pengendali banjir di Curitiba dijadikan urban park. Ruang hijau ditingkatkan sampai seluas 52 m perpenduduk. Kemudian waktu produktif dan kenyamanan semakin efektif dengan adanya transportasi massal dengan waktu tempuh yang pasti dan bebas macet. 

   

Kebijakan transportasi ini juga berhasil mengurangi ketergantungan warga kota pada mobil pribadi. Membawa efek yang menguntungkan bagi pengurangan polusi.  Keseluruhan program perencanaan kota tersebut menjadikan Curitiba sebagai kota yang secara lingkungan fisik sehat dan bersih, dan secara sosial nyaman untuk beraktivitas dan berinteraksi, sehingga mempererat kesatuan warga. 


Secara finansial, pembiayaan perencanaan kota Curitiba sangat efisien dan murah. Kebijakan busway dengan terminalnya yang berfungsi sebagai surface subway telah menghemat jutaan dolar dibanding jika sistem yang digunakan adalah subway atau lightrail (Horizon Solution Site 2005). Model  people centerede ecological city yang diterapkan Curitiba ternyata juga membawa efek ekonomi yang sangat luar biasa. Ruang kota yang nyaman, hijau, sehat, dan hidup di mana manusia ditempatkan secara sangat layak, telah menarik banyak wisatawan yang menghasilkan US $ 280 juta (lebih dari 2.6 trilyun rupiah dalam rate 9400/dolar AS), 4 % dari pendapatan kota. Pertumbuhan ekonomi kota juga mencapai 7.1 %, jauh di atas angka nasional Brazil yang hanya sekitar 4.1 % pertahun. Pendapatan perkapita warga kota juga mencapai angka 66 % lebih tinggi dari pendapatan Brazil dalam skala nasional. 

Angka-angka ini menunjukkan bahwa program terintegrasi lingkungan-sosial-ekonomi telah berhasil mengurangi kemiskinan, meningkat-kan kesejahteraan ekonomi dan ketahanan sosial yang sangat mengagumkan. Beberapa faktor yang mendukung perencanaan kota jangka panjang di kota Curitiba terlaksana dengan baik adalah hal-hal :

 

Selain itu, dalam pelaksanaannya, pemerintah kota memanfaatkan dengan baik “social capital” yang ada. Aparat pemerintah kota, IPPUC, dinas-sinas pemerintah, lembaga riset, organisasi sosial, warga kota, Lembaga Swadaya Masyarakat bahkan lembaga-lembaga internasional semuanya terlibat dalam pembangunan kota Curitiba.